Menjadi Diri Sendiri

September 16, 2011 Comments off

Banyak orang yang berhasil tetapi tidak menjadi orang lain melainkan menjadi dirinya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh Jacky Chen ketika ia mencoba meniru Bruce Lee didalam memerankan jago kungfunya akan tetapi apa yang dia peroleh, ia tidak terkenal dan filmnya pun biasa biasa saja.
Tetapi ketika ia menjadi dirinya sendiri didalam memerankan sebagai dirinya sendiri, filmnya begitu meledak dan menjadi incaran masyarakat untuk melihatnya. Meski contoh itu hanya sekilas namun menjadi diri sendiri ternyata jauh lebih baik untuk menjadi terkenal dan kuat.

Categories: paradigma

Menulis Artikel Bagi Pemula Bagaikan (Hendak) Mendaki Gunung

May 18, 2011 Comments off

(Bagian II)

Pada bagian I telah dterangkan tentang persiapan awal memulai menulis, sedangkan pada bagian II ini, akan penulis sampaikan bagaimana seharusnya ketika hendak memulai menulis. Karena pada bagian I menggunakan analogi, maka dalam bagian inipun penulis akan menyampaikan analogi yang sama. Semoga bermanfaat.

Hindari Gerakan Gerakan yang Tidak Perlu.

Memulai pendakian, bagi pendaki pemula sering memunculkan perasaan optimistis yang berlebihan, melihat puncak gunung yang lebat dan rimbun diatas kepala tersebut, seakan akan dapat dicapai dalam dua atau tiga langkah kedepan. Mereka sering bernyanyi nyanyi, riang gembira dan bergerak kekanan dan kekiri dengan melakukan gerakan gerakan yang tidak perlu. Tanpa mereka sadari hal tersebut akan menguras tenaga untuk jarak yang tidak dekat.

Demikian juga dengan calon penulis handal, pada kali pertama mereka memulai tulisannya sering melakukan kegiatan kegiatan yang tidak perlu. Kita sering mengumpulkan bahan sebanyak banyaknya yang tidak didaras dengan apik. Sekian buku dikumpulkan hanya sekedar pemenuhan tempat menulis.   padahal tugas penulis awal bukanlah mengumpulkan buku lalu merangkumnya, tetapi mengumpulkan bahan sebanyak banyaknya yang harus dibaca dengan apik dan baik sesuai dengan kebutuhan bahan tulisan yang akan disajikan. Oleh karenanya hindarilah gerakan gerakan yang tidak perlu ketika hendak mendaki agar stamina kita tetap terjaga hingga puncak gunung.

Petakan Lokasi Lokasi Yang Akan Dituju

Memetakan lokasi tujuan akan memudahkan kita didalam mencapai kata akhir. Misalnya 30 menit perjalanan harus mencapai lokasi A, 30 menit kemudian harus sampai pada rumah B dan seterusnya dibuat seperti itu.

Dalam dunia tulisan kita coba untuk menuliskan materi apa saja yang akan kita tuangkan per paragraphnya. Seperti contoh pada bagian I, ketika kita akan menuliskan tentang “pendidikan agama dikeluarga” maka dapat dipetakan tulisan tersebut seperti ini;

  • Paragraph satu poin tulisan berisi tentang pengertian pendidikan dikeluarga menurut beberapa ahli pendidikan.
  • Paragraph dua poin tulisan berisi tentang agama dikeluarga, boleh mengambil pengertian dari para ahli atau anda keluarkan unek unek kita tentang pendidikan keluarga.
  • Paragraph tiga poin tulisan berisi tentang keluarga menurut kita.
  • Paragrap empat point ulisan berisi tentang kondisi keluarga didalam menerapkan agama.
  • Paragraph kelima poin tulisan berisi tentang kesimpulan pentingnya pendidikan dalam keluarga.
  • Paragraph kelima poin tulisan berisi tentang solusi menurut kita tentang pendidikan keluarga dirumah.

Mulailah Melangkah

Seperti yang sering diungkapkan para ahli, bahwa untuk mengetahui betapa susahnya berenang anda harus terjun kedalam kolamnya. Akan percuma teori tentang renang anda kuasai dengan baik kalau kita takut berbasah basah. Demikian juga dengan resep menulis. Banyak para ahli menyampaikan teori tentang menulis yang berujung pada 3 M sebagai resep ampuh. M pertama menulis, M kedua menulis dan M ke tiga menulis. Hanya itu. Oleh karenanya kita harus memulai dari sekarang. Melangkah dan ayo mulailah menulis. Dan untuk sementara cukuplah lima paragraph pokok yang kita kembangkan, walaupun dapat dikembangkan lebih luas lagi tetapi, karena kelas kita pemula cukup lima paragraph didalam memulai pendakian ini. Usahakan setiap paragraph terdiri antara 80 hingga 100 kata apabila dikalikan 5 paragpragh akan menjadi 1 halaman A4 spasi 1. Silahkan dibuktikan.

Jangan Pernah Ada Kata Mundur

Tidak jarang teman teman yang baru 1 jam mendaki bukit, merasa putus asa karena beban semakin berat. Belum lagi teriakan teman teman yang mengejek karena dibilang lambat. Bersabarlah.

Dalam dunia tulisanpun kurang lebih seperti ini. Yang dimaksud dengan kata mundur dalam dunia tulisan adalah jangan pernah menghapus tulisan yang sudah dibuat sekecil apapun. Ingat kita baru memulai menulis, maka sudah pasti apabila tulisan kita banyak kekurangnnya. Kesalahan kecil dari pemula adalah ingin selalu tulisannya tersebut langsung bagus tanpa ada revisi dari para ahli. Padahal mereka tidak sadar apabila mereka baru saja belajar menulis. ingatlah filosopi anak kecil yang belajar berdiri, mereka tanpa kenal menyerah untuk selalu berlatih agar bisa berjalan walaupun dengan ratusan kali jatuh. Bersabar dan jangan pernah mundur kalau kita ingin maju.

Tidak Dilarang, Mendaki Sambil Mendengarkan Lagu

Sebagai pengiring langkah kaki, pendaki boleh membawa alat komunikasi atau yang lainnya yang dapat dipergunakan sewaktu waktu. Agar pendakian tidak terasa membosankan. Ngak ada salahnya sambil mendengarkan radio atau mendengarkan lagu.

Demikan pula dalam dunia tulisa menulis. kita tidak dilarang ketika menulis diiringi music yang membantu daya konsentrasi. Seperti music “kitaro” misalnya atau lagu lagu “evergreen” yang slow. Tapi harus diingat untuk sementara music yang menghentak dan membuat kita goyang kepala harus dihindari, karena dikhawatirkan goyangannya yang didahulukan ketimbang menulis. semoga bermanfaat. wallahu ‘alam.

*Oleh Abdul Holik, Anggota Klub Menulis Dunia Kata.

Categories: paradigma

Menulis Bagi Pemula

April 6, 2011 Comments off

(Bagian I)

Jika belajar menulis bagi pemula diandaikan seperti orang yang akan mendaki puncak gunung, mungkin tidak salah. mengingat kedua aktivitas tersebut memerlukan persiapan yang tidak sederhana, walaupun bisa disederhanakan oleh para ahli seperti guru kita di DK ini. Tetapi menurut pengalaman yang dialami penulis, kegiatan menulis ternyata tidak bisa sesederhana itu.

Layaknya orang yang akan mendaki gunung yang harus mempersiapkan perbekalan yang cukup, agar diperjalanannya tidak menemui kesulitan seperti tersesat atau habis perbekalan. Maka penulis pemulapun harus demikian, mereka harus mempersiapkan perbekalan yang cukup. Bukan hanya kertas dan balpoin yang banyak, tapi juga bahan bacaan yang relevan dengan tulisan yang akan dibuat. Buku, koran, majalah, kliping, kumpulan artikel atau tulisan teman sekalipun, semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Lantas apa saja persiapan dari seorang pendaki itu, inilah diantaranya;

Tas Perbekalan
Bahan tulisan seperti buku, kliping, Koran, majalah, bulletin, jurnal, dll. diibaratkan tas gendong perbekalan yang harus dipersiapkan dengan bijak. Jangan mentang mentang gunung yang akan didaki tinggi maka banyak perbekalan yang tidak pentingpun dimasukan. Pilah bahan tulisan dengan baik, sekiranya kita akan menulis tentang “pendidikan agama dikeluarga”, maka tulisan tentang pencurian sepeda motor disebuah toserba tidak perlu dibawa, atau cerita politik para politisi dinegeri ini tidak perlu juga dimasukan dalam ransel kita. Walapun nanti kalau sudah mahir dalam menulis, kejadian kejadian tersebut dapat dihubung hubungkan dengan tema tulisan tentang pendidikan agama dalam keluarga, akan tetapi cukup kiranya bagi pemula menyiapkan tulisan tentang agama satu buku, tentang keluarga satu buku dan tentang pendidikan satu buku pula. Persiapkan tas perbekalan dengan baik.

Tali Pengikat
Tali pengikat diibaratkan kata kata awal dalam setiap paragraph. Misalnya catatlah kata kata pembuka yang variatif seperti; pada saat ini, sedangkan, oleh karena itu, sebenarnya, kemudian, pada kontek demikian, adapun, walaupun, namun demikian, barangkali, menurut hemat, pendapat tersebut dan lain sebagainya. Jangan sepelekan hal ini karena akan berpengaruh terhadap mulusnya alur tulisan. Semakin mulus jalan awal masuknya tulisan, akan membuat pembaca semakin berselera dengan tulisan paragraph berikutnya.

Suplemen
Makanan suplemen sebagai bahan konsumsi perut dibaratkan diksi atau kumpulan kalimat yang akan membantu kita, ketika pikiran mulai jenuh dengan jalan yang mulai mendaki. Suplemen yang di konsumsi haruslah yang bervitamin serta mengandung mineral yang baik agar metabolisme tubuh berjalan dengan baik. Karena asupan yang bergizi pada akhirnya akan melahirkan tulisan yang bergizi pula. Makanan yang sehat akan melahirkan tulisan yang sehat pula. Perbanyaklah membaca buku yang bermutu tentang pendidikan dan keluarga misalnya, kalau bisa sehari satu buku, yang tipis saja agar dapat selesai dibaca dalam satu hari. Hindari berita gosip atau kriminal karena tema menulis kita tidak mengarah kesana.

Bawa Petunjuk Arah
Agar tidak tersesat dan tulisan yang dibuat tidak mengalir kemana mana, tempelkan judul atau tema tulisan di depan mata. Kalau perlu tulisakan judul dengan tinta merah yang besar. Kalau misalnya mau diprint, cetak judul atau tema tulisan dengan besaran huruf 100 point, gunakan huruf arial sebagai huruf baku. Hemat energy menulis dengan tidak menuliskan ide yang tidak ada hubungannya. Mind mapping nya pak guru di DK telah berhasil membuat penulis mengembangkan beberapa ide dari satu judul tulisan. Selain itu ternyata judul atau tema tulisan yang ditulis besar besar tersebut telah mengikat penulis untuk tidak berpaling kelain hati, artinya akan menjaga focus pikiran kita dari tema tulisan diawal.

Pisahkan Perbekalan Menurut Tempatnya.
Agar mudah mendapatkan benda yang akan digunakan pada saat pendakian, mulailah menyimpan benda benda tersebut sesuai dengan tempatnya. Misalnya cangkir diatas bagian luar, alas tidur diikat dibagian bawah tas, baju dan celana salin dibagian dalam tas, dsb. Secara perlahan pilahlah bahan tulisan kita menurut urutannya masing masing. Misalnya ketika kita hendak menulis tentang “Pendidikan Agama dikeluarga”. Maka ada bagian pengertian tentang pendidikan. Kumpulkanlah kalimat kalimat tentang pengertian pendidikan. Tidak perlu banyak cukup dua atau tiga pengertian. Kemudian kumpulkan tentang pengertian Agama. Inipun cukup 2 atau 3 pengertian saja. Selanjutnya kumpulkan pengertian tentang keluarga dengan jumlah yang sama pula seperti pengertian tentang pendidikan. Untuk sementara jangan terlalu ambil pusing apabila urutannya belum sempurna, ingat kalau kita adalah penulis pemula. Kumpulkan saja dan pilahlah tulisannya jangan sampai tumpang tindih.

Setelah dikumpulkan, mulailah menempatkan kumpulan kalimat tersebut pada tempatnya. Ketika ingin menjelaskan tentang kata pendidikan, maka ambilah pengertian tentang pendidikan tadi dan kupas tuntas pengertian tentang pendidikan pada satu atau dua paragraph. Usahakan didalam paragraph pendidikan jangan ada pengertian lainnya. Cukup paragraph tentang pendidikan saja. Demikian juga dengan paragraph yang lainnya.

Sebagai penutup, tampaknya beberapa petunjuk diatas, sebagai persiapan awal sebelum kita melakukan pendakian yang sesungguhnya terasa cukup. Akan tetapi selain mempersipakan hal hal yang nampak oleh mata seperti diatas, perlu juga kita mempersiapkan batin kita sekuat kuatnya. Niat yang ikhlas mencari keridhoan Allah dengan cara menulis. Pepatah mengatakan “man jadda wa jadda” atau “sing saha nu keyeng tangtu pareng”, arti populer pepatah itu ”barangsiapa yang bersungguh sungguh untuk mendapatkan sebuah keinginan pasti berhasil”. Semoga tulisan ini bermanfaat.

*Oleh Abdul Holik,  Anggota Klub Menulis Dunia Kata.

Categories: Menulis Yuk Tags:

Nilai

April 1, 2011 Comments off

Sebuah penilaian yang datar tanpa mengindahkan standar penilaian, akan menghasilkan angka angka yang tidak bermutu. Baik UTS, UAS atau UAN sekalipun tidak akan berdampak pada peningkatan kualitas individu. Ketika semua orang tertarik dengan passing grade dan nilai UAS yang memuaskan, seringkali lupa bahwa angka angka mutu itu tidak akan menjamin kita untuk mampu menguasai diri dan tambah dewasa, bahkan hal itu bukanlah akhir dari perjalanan kita untuk terus maju didalam meningkatan kualitas diri. Semua yang kita dapatkan dengan angka angka itu kadang-kadang diselingi dengan celoteh yang “aneh”. Termasuk dikelas yang lebih tinggi dari majasiswa S1.

Tidak dipungkiri bahwa setiap orang menginginkan hal itu, tetapi tentu akan lebih bijak lagi apabila nilai yang diperoleh dibarengi dengan peningkatan kebernasan pola pikir dan pemahaman terhadap berbagai permasalahan.

Categories: paradigma

Perbaikan Untuk Perbaikan

March 17, 2011 Comments off

Jepang adalah negara yang kuat, tapi sekuat kuatnya negara maju itu ngak mampu menahan derasnya air yang datang dari laut. tsunami meluluhlantakan semua harta benda mereka. Kami ikut belasungkawa.

Categories: paradigma

Alhamdulillah

February 8, 2011 Comments off

Akhirnya…..  blog ini saya temukan lagi… horeeeeeeeeeeeeeeee, kegembiraan yang tak dapat diganti oleh nyenyak nya tidur malam…. hehe

Categories: paradigma

Coretan Kelas

April 29, 2010 Comments off

Oleh oleh :

Abdullah Kh. (29.4.2010)

catatan penting yang saya peroleh ketika mengikuti beberapa mata kuliah di PASCASARJANA UNINUS  semoga saja bermanfaat bagi siapapun yang ingin memanfaatkannya:

  • Kita harus menerapkan pelatihan shalat yang lima waktu dalam mengerjakan tugas apapun, karena dengan aktivitas itu tanpa disadari kita telah dipaksa untuk berbuat sesuatu terencana dan teratur.
  • Jangan mengundang kebodohan dalam hidup ini.
  • Sadarilah tentang kondisi diri sendiri di Organisasi/ Instansi/ tempat kita bekerja apakah kita ini beban atau aset organisasi?
  • SDM sebagai Aset apabila ia memberikan kontribusi yang nermanfaat bagi perusahaannya, sementara yang dimaksud dengan SDM beban apabila ia tidak memberikan kontribusi positif terhadap aktifitas organisasi.
  • Apakah pekerjaan yang kita lakukan ditempat kerja kita sudah sesuai dengan gaji yang kita peroleh? Gaji yang diterima oleh seseorang apabila tidak dikembalikan dalam bentuk pelayanan organisasi yang maksimal terhadap masyarakat maka gajinya tersebut hukumnya Haram.
  • Agar SDM dapat menjadi aset organisasi maka ia harus memiliki banyak keunggulan kompetitif termasuk negara kita harus mempunyai keunggulan kompetitif yang banyak yagn harus ditunjang oleh teknologi. Karena tidak mungkin negara kita maju kalau hanya berpijak pada keunggulan komparatif.
  • Keunggulan kompetitif hanya dapat diperoleh melalui belajar karena hanya orang yang belajarlah yang mau berubah.
  • Melalui belajar akan memberikan nilai lebih (added value) manusia.
  • ilmu harus diaplikasikan dalam kehidupannya agar benar benar bermanfaat. Apabila tidak dimanfaatkan maka ia hanya akan menjadi seorang penonton.
  • Nilai kompetitip SDM akan bertambah apabila ia produktif dengan efektif dan efisien. Contohnya 1 kg besi tanpa teknologi hanya dijadikan sebuah palu saja dengan harga Rp 40.000. Sementara 1 kg besi apabila menggunakan teknologi akan menjadi senjata yang berharga puluhan juta rupiah.
  • Belajar dapat dilakukan dalam pelatihan di lembaga lembaga tertentu atau disekolah sekolah. Hanya segala sesuatunya harus sesuai dengan kebutuhan dan aturan yang telah ditetapkan.
  • Simaklah apa yang diucapkannya jangan melihat siapa yang mengucapkannya.
Categories: paradigma

Keindahan Mereka

February 10, 2010 Comments off

menarik dan melegakan ketika mereka memanggil bapaknya penuh dengan canda… mereka bunga bunga surga yang Tuhan turunkan untuk ketenangan orang tuanya… berbahagialah semuanya yang mempunyai keberkahan itu… jaga dengan seksama dan rawatlah dengan baik… kelak mereka akan menjadi mutiara yang memancarkan sinar yang  indah di masa tua kita….

Categories: paradigma Tags:

Mengantisipasi Kelumpuhan Karir

January 30, 2010 Comments off

Kategori Organisasi Industri

Oleh : Ubaydillah, AN

Jakarta, 10 Maret 2006

Berawal Dari Ketidakpuasan

Meski kita disebut makhluk pelupa, tapi masih diberi kemampuan untuk mengabadikan ingatan terhadap sesuatu. Selain pernikahan atau cinta pertama, peristiwa yang tak mungkin terlupakan adalah ketika kita menerima pekerjaan baru. Ini umumnya terlepas apakah kita baru sekali itu bekerja atau tidak.

Kalau mengingat ke belakang, saat itu kita benar-benar merasa puas. Kepuasan itu kita ekspresikan dengan antusian kerja yang tinggi, disiplin, motivasi yang bagus, kesediaan belajar dan menerima pelajaran dari orang lain, dan lain-lain. Kita benar-benar merasa memiliki alasan yang cukup kuat untuk mensyukuri apa yang kita dapatkan.

Tapi, seiring dengan proses waktu, kepuasan itu mulai menurun atau memudar. Ini biasanya terekpresikan dari mulai misalnya: setengah hati menghadapi hari Senin, merasa plong secara berlebihan pada Jum’at atau Sabtu sore, jenuh atau bosan terhadap pekerjaan yang kira rasakan itu-itu saja, merasa tidak bangga lagi terhadap profesi atau pekerjaannya, merasa kehilangan gairah untuk mensyukuri pekerjaan, dan lain-lain.

Kalau melihat temuan dari sejumlah studi di bidang karir, ada yang bisa dijadikan petunjuk. Studi mengungkap sebagian besar karyawan punya antusias tinggi ketika menemukan pekerjaan baru. Tapi, antusias itu akan menurun setelah enam bulan bekerja. Ini dirasakan oleh 85 % dari 1000 perusahaan yang dijadikan objek studi dan melibatkan kurang lebih satu setengah juta karyawan dari sejak tahun 2000-2004 (Sirota Survey Intelligence, New York).

Studi lain mengungkap bahwa kegairahan karyawan hanya akan berlangsung paling maksimal satu tahun dari sejak setelah mendapatkan pekerjaan. Selama masa satu tahun pertama ini, mereka sangat antusias, komitmennya bagus, bersedia untuk menerima nasehat dari atasannya, dan datangnya tepat waktu(The Gallup Organization, 2003).

Pertanyaannya adalah, apa yang menyebabkan itu terjadi? Karena ini masalah manusia, maka biasanya masalah itu muncul bukan bersumber dari satu sebab. Mayoritas masalah manusia bersumber dari dua hal, yaitu:

1. Pemicu

Yang saya maksudkan dengan pemicu di sini adalah sebab-sebab yang berasal dari luar (faktor eksternal). Berbicara mengenai pemicu dalam kaitannya dengan kepuasan / ketidakpuasan kerja, mungkin cakupannya bisa kita uraikan, antara lain:

  • Pekerjaan itu sendiri

  • Gaji, tunjangan, penghasilan

  • Lingkungan kerja

  • Perkembangan karir

  • Penilaian kerja

  • Perlakuan manajemen

  • Pembagian / penunjukan kerja

  • Dan lain-lain sejauh yang terkait dengan soal puas dan tidak puas.

Jika ada sebagian dari hal-hal yang saya sebutkan di atas yang menurut kita tidak sesuai lagi atau tidak fair, maka benih-benih ketidakpuasan mulai tumbuh. Dan jika ini terus berlanjut dan terus berlanjut, maka benih itu tumbuh membesar sampai kemudian membentuk ekspresi riil yang bermacam-macam. Ada yang kehilangan perspektif positif menyangkut tempat kerja. Asal bicara kerjaan, komentarnya sudah asem saja. Ada yang malas-malasan, ada yang ingin pindah tetapi hanya ingin dan ada yang benar-benar pindah.

2. Penentu

Penentu di sini adalah sebab-sebab yang bersumber dari dalam diri kita. Apa yang kita ciptakan dari dalam diri kita (dari mulai pandangan, pemikiran, penyikapan, keputusan, tindakan), dalam menghadapi pemicu adalah yang menentukan kita. Karena itu, ada banyak pesan yang mengingatkan kita tentang hal ini. Pesan itu antara lain begini;

“Nasibmu tidak ditentukan oleh apa yang menimpamu tetapi ditentukan oleh apa yang kamu lakukan atas apa yang menimpamu.”

“It’s not what on you, but it’s what in you.”

“Tindakanmu adalah fungsi dari keputusanmu, bukan fungsi dari keadaanmu.”

Dan masih banyak lagi pesan serupa yang kerap kita dengar.

Jika semua ini kita gunakan untuk menjelaskan fenomena kepuasan dan ketidakpuasan, maka penjelasan yang mungkin kita tangkap adalah bahwa hal-hal yang menurut kita tidak sesuai atau tidak fair, memang memunculkan ketidakpuasan. Hanya saja, apakah ketidakpuasan itu akan kita gunakan untuk memperbaiki atau merusak diri, itu pilihan kita. Artinya pilihan di sini adalah kita yang menentukan. Kitalah sang penentu itu. Fungsi ini tidak bisa kita lemparkan kepada siapapun biarpun kita menolaknya. Ini karena akibat riilnya akan kembali kepada kita juga.

Jujur perlu kita akui, meski kita sudah mengetahui perbedaan antara pemicu dan penentu dalam teori, namun prakteknya masih kerap kita lupakan. Ketika ketidakpuasan itu berubah menjadi hal-hal yang merusak karir kita, hampir tidak ada yang secara gentle mengakui bahwa itu lahir karena keputusan kita juga. Umumnya, kita menunjuk siapapun atau apapun yang penting bukan diri kita.

Kelumpuhan karir

Kelumpuhan karir (Career Paralyse) sebetulnya hanya sebuah istilah untuk menggambarkan adanya dinamika karir seseorang yang sudah tidak bergerak lagi, entah itu ke atas atau ke samping. Meminjam istilah dari banyak literatur, orang yang terkena ini langkahnya seperti orang yang terpenjara (trapped), putus asa atau tidak punya harapan lagi ketika berbicara soal karir atau profesi. Wilayah kehidupan lain di luar karir juga terkena imbas buruk, tertekan oleh perasaan tidak aman atau tidak layak.

Dalam prakteknya kerap kita jumpai ada sekelompok orang yang dinamika karirnya bergerak membaik tetapi ada juga yang dinamika karirnya sudah mandek atau lumpuh di level tertentu. Tentu saja ini diukur menurut keadaan masing-masing orang. Pesan John Maxwell mengatakan: “Banyak orang yang akhirnya berada di tempat (kerja) yang salah karena mereka mendiami tempat yang tepat terlalu lama.” Tanda-tanda paling umum yang perlu kita waspadai seputar munculnya kelumpuhan itu adalah:

  • Benar-benar merasa tidak bahagia dengan pekerjaan atau profesi yang ada

  • Depresi berat meski sudah promosi, rotasi, dsb

  • Kecenderungan untuk melakukan kritik-diri secara berlebihan

  • Motivasi dan semangat berkompetisi yang sangat rendah

  • Rasa rendah diri

  • Tidak memiliki tujuan yang jelas dan jelas-jelas kita perjuangkan

Menurut laporan studi di bidang karir, hal-hal buruk di atas tidak muncul seketika dan langsung banyak, melainkan berproses. Kelumpuhan terjadi karena adanya pengabaian yang berproses dari titik tertentu ke titik yang lain. Untuk koreksi-diri, marilah kita lihat proses di bawah ini:

  • Dissatisfaction (Ketidakpuasan)

  • Demotivation (Kehilangan sumber motivasi)

  • Paralyse (Kelumpuhan)

Awalnya, kelumpuhan itu berawal dari ketidak-puasan yang diabaikan. Kita merasa tidak puas dengan keadaan sekarang tetapi ketidakpuasan itu kita biarkan menjadi energi negatif. Atau juga kita menjumpai hal-hal yang membuat kehilangan alasan untuk bersyukur tetapi itu kita biarkan atau tidak kita transfromasikan menjadi energi positif.

Dalam hitungan yang ke sekian juta kali, ketidak-puasan itu muncul dari batin kita dan selalu kita biarkan, maka lahirlah sel-sel baru. Jadilah ia demotivator dalam bentuk: tidak ada gairah berprestasi ke tingkat yang lebih tinggi, kehilangan visi pribadi ke depan, bekerja dengan niat asalkan gaji bulanan lancar, dan seterusnya.

Sampai pada tahap di mana sebagian besar kebiasaan kerja kita didominasi oleh ketidakpuasan dan demotivasi, maka sangat masuk akal jika yang terjadi adalah kelumpuhan. Ibarat kata, biarpun ilmu manajemen kita segunung, tetapi kalau batin ini bermasalah, kemungkinan besar ilmu yang segunung itu tak bisa berbuat banyak. Biarpun jaringan kita banyak, tetapi kalau batin kita bermasalah, maka jaringan yang banyak itu tak bisa berbuat banyak untuk kemajuan karir kita.

Menjadikan sebagai pemacu

Dilihat dari perspektif ketuhanan, munculnya perasaan tidak puas atas keadaan yang ada, itu bukan sesuatu yang tanpa guna. Ketidakpuasan ada gunanya dan kitalah yang diberi pilihan untuk menggunakannya. Jika diikuti perspekstif ini, berarti kita diharapkan dapat menggunakan ketidakpuasan yang muncul sebagai pemacu atau pendorong untuk melakukan hal-hal yang positif.

Karena itu, Dr. Felice Leonardo Buscaglia, American Professor of Education, pernah berpesan: “Perubahan adalah hasil akhir dari pembelajaran. Perubahan itu melibatkan tiga langkah, yaitu: pertama, ketidakpuasan. Kedua keputusan untuk berubah guna memenuhi penolakan atau kebutuhan. Ketiga,kesadaran untuk mengabdikan diri pada proses perkembangan.” Seperti kita sadari, memang tidak semua perubahan membawa perbaikian yang langsung buat kita, tetapi semua perbaikan menuntut perubahan.

Terkait dengan pembahasan kita kali ini, pertanyaannya adalah bagaimana mengelola ketidakpuasan itu agar tidak menjadi benih-benih kelumpuhan karir seperti yang sudah dibahas di muka? Barangkali kita bisa melakukan tiga hal berikut ini:

Pertama, menyadari bahwa ketidakpuasan itu bisa kita gunakan sebagai pemacu dan menggunakannya untuk memacu diri. Seperti yang sudah kita bahas, ketidakpuasan itu netral gunanya meski rasanya sama. Karena netral (bisa killer dan bisa builder), maka jangan heran bila ada sebagian orang yang semakin terpacu dan ada lagi yang malah menjadi lumpuh. Ini bukti bahwa perbedaan ini tidak diciptakan dari ketidakpuasan itu, melainkan diciptakan dari bagaimana orang itu menggunakan ketidakpuasannya. Jangan heran bila dalam satu realitas, ada orang yang mendapatkan pencerahan dan ada orang yang mendapatkan kegelapan.

Dengan menjadikan ketidakpuasan itu sebagai pemacu atau pendorong kemajuan maka di sini posisi kita secara mental bukan menjadi korban atas ketidakpuasan tapi sebagai penguasa atas ketidakpuasan itu. Selain Anthony Robbins, Saya kira di dunia ini sudah banyak orang yang sanggup menggunakan ketidakpuasannya untuk meraih prestasi yang lebih tinggi atau untuk memperbaiki dirinya. “Rahasia untuk berprestasi adalah belajar bagaimana menggunakan kesengsaraan dan kesenangan, bukan menjadi korban kesengsaraan atau kesenangan. Jika kamu melakukan ini maka kamu akan bisa mengontrol hidupmu dan sebaliknya jika kamu tidak melakukannya, maka kamu akan dikontrol,” begitu kesimpulan Robbins

Kedua, realisasikan ke dalam program perbaikan. Seperti kita tahu, untuk meraih kemajuan atau perbaikan tentu tidak cukup dengan hanya memiliki dorongan yang kuat atau keinginan yang kuat. yang dibutuhkan selain itu adalah merealisasikan keinginan yang keras itu ke dalam sebuah program perbaikan yang spesifik dan riil. Kenapa harus spesifik? Biasanya, program perbaikan yang kita inginkan itu jumlahnya amat banyak. Apalagi dalam kondisi ketidakpuasan. Inginnya kita adalah mengubah diri secara total (total improvement) dan sekaligus.

Meski sedemikian rupa keinginan itu, tapi bila kemampuan kita tidak sampai, keinginan itu pasti gagal. Untuk menghindari ini harus ada perbaikan yang spesifik berdasarkan prioritas. Inilah yang disebut learning atau belajar menjadi lebih baik dari praktek.

Ketiga adalah mengelola emosi. Seperti kita alami, perasaan ketidakpuasan itu dinamis sifatnya. Untuk satu hal, untuk satu keadaan dan satu tempat, bisa saja terkadang kita merasa tidak puas, dan terkadang kita puas. Jadi, selain dinamis juga temporer. Karena itu, tidak terlalu tepat juga kalau kita menggunakan setiap ketidakpuasan itu untuk menyusun program perbaikan baru.

Nah, di sini saya melihat bahwa mengelola emosi itu penting, karena akan mengajarkan kapan kita menggunakan ketidakpuasan sebagai pemacu untuk merumuskan program perbaikan baru dan kapan kita menggunakan ketidakpuasan itu sebagai spirit untuk menjalankan program yang sudah kita rumuskan. Kalau kita sedikit-sedikit bongkar pasang rencana, judul akhirnya malah tidak karu-karuan. Tetapi kalau kita tidak merumuskan rencana baru atau memiliki standar prestasi yang baru, ini biasanya malah membikin kita mandek yang berujung pada apa yang disebut dengan kelumpuhan karir itu.

Dengan tiga hal di atas katakanlah misalnya nasib karir kita belum sebagus yang kita inginkan, tetapi yang paling penting di sini adalah batin kita dinamis. Dengan batin yang dinamis ini langkah kita menjadi dinamis dan lebih enteng. Kalau langkah kita menjadi enteng, saya pikir ini berbeda dengan ketika langkah kita yang telah dipenuhi oleh beban ketidakpuasan. Kita bagaikan kendaraan yang kelebihan muatan. Biarkan gas sudah kita tancap sedemikian kuat, tapi kecepatannya masih belum optimal. Seperti pesan seorang atlit, masalahnya bukan di luar diri kita, tetapi di dalam diri kita.

Kita memang tidak bisa menciptakan perubahan karir dalam satu malam, tetapi keputusan kita untuk melakukan perubahan atau menggunakan ketidakpuasan sebagai pemacu perubahan, bisa kita lakukan dari mulai malam ini juga. Benarkan?

Categories: paradigma

Jangan Mengundang Kebodohan

January 20, 2010 Comments off

Sesekali terlihat mengkerut raut wajah yang damai itu. Sesaat kemudian ia mengepalkan tanganya bahwa ia telah mampu menyelesaikan tugas yang diberikan gurunya itu. Suatu saat ia bertanya pada saya tentang sesuatu yang agak pelik untuk dijelaskan, akhirnya sayapun menjawab pura pura…hm hm apa ya… ia pun berkomentar…persis seperti Prof. Abdorrakhman Ginting ungkapkan…”abi abi…. pantesan bodo…suka ngabobodo aa..” ya ya kita jangan sekali kali mengundang kebodohan dalam hidup ini. “Jangan kau undang kebodohan dengan mengatakan saya terlalu sibuk untuk mengerjakan tugas ini” persiis…thank’s my little boy…

Categories: paradigma Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.